Tersangka Kasus Binomo Crazy Rich Indra Kenz Kini Mendekam Dipenjara

Tersangka Kasus Binomo Crazy Rich Indra Kenz Kini Mendekam Dipenjara

Indra Kesuma alias Indra Kenz tengah menjadi sorotan utama masyarakat. Hal itu menyusul ditetapkannya dia sebagai tersangka dalam kasus Binomo. (instagram Indra Kenz)

RADARCIANJUR.com – Indra Kesuma alias Indra Kenz tengah menjadi sorotan utama masyarakat. Hal itu menyusul ditetapkannya dia sebagai tersangka dalam kasus Binomo. Dia juga langsung dikenakan penahanan oleh penyidik Bareskrim Polri.

Indra pertama kali dikenal publik sebagai crazy rich asal Medan, Sumatera Utara. Dia memiliki banyak usaha. Mulai dari kursus trading, klinik kecantikan, usaha kuliner, hingga clothing line. Dia juga memiliki perusahaan bernama PT Disotiv Citra Digital yang bergerak di bidang digital marketing dan videografi.

Indra juga diketahui kerap memamerkan kemewahan di media sosial Youtube, TikTok, dan Instagram. Hal itu pula yang membuatnya dikenal sebagai crazy rich.

Kini status crazy rich tersebut nampaknya menjadi kurang berharga. Pasalnya Indra Kenz harus berurusan dengan pihak berwajib dalam kasus dugaan penipuan dan penyebaran berita bohong atau hoax berkedok binary option melalui aplikasi Binomo.

Kasus berawal saat 8 orang warga mendatangi Bareskrim Polri, Jakarta Selatan. Mereka membuat laporan polisi terhadap Aplikasi Binomo karena dianggap telah memberikan kerugian lebih dari Rp 2 miliar.

Laporan ini teregister di Bareskrim Polri dengan nomor STTL/29/II/2022/Bareskrim tertanggal 3 Februari 2022.

“Kita baru saja membuat laporan polisi terkait dengan binary option ini khususnya aplikasi Binomo,” kata pengacara korban, Finsensius di Bareskrim Polri, Jakarta, Kamis (3/2).

Para korban melaporkan Binomo atas tuduhan perjudian online, hingga treding ilegal. Para korban mengaku menelan kerugian hingga Rp 2 miliar lebih.

“Kerugiannya kalau untuk koordinatornya sendiri Rp 550 juta. Tapi di sini yang datang di Bareskrim total kerugian delapan orang ini Rp 2,467 miliar,” jelas Finsesius.

Bareskrim Polri menyimpulkan, Binomo masuk dalam kategori judi ilegal. Penyidik menilai terdapat unsur berita bohong atau hoax hingga penipuan dalam praktik Binomo.

“Telah terjadi dugaan tindak pidana judi online dan atau penyebaran berita bohong melalui media elektronik dan atau penipuan atau perbuatan curang atau tindak pidana pencucian uang oleh terlapor IK dkk,” kata Direktur Tindak Pidana Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Pol Whisnu Hermawan dalam keterangan tertulis, Jumat (11/2).

Whisnu mengatakan, keterlinatan Indra Kenz dalam kasus ini yaitu dia mempromosikan Binomo melalui akun media sosial. Yakni akun Youtube, Instagram dan Telegram.

“Dengan menawarkan keuntungan melalui aplikasi treding Binomo bahwa Binomo sudah legal dan resmi di Indonesia,” imbuhnya.

Selain itu, Indra juga memperlihatkan keuntungan yang didapat dari aplikasi tersebut. Selanjutnya mengajarkan strategi treding melalui aplikasi Binomo.

“Terlapor mengajarkan strategi treding dalam aplikasi tersebut dan terus memamerkan hasil provitnya. Lalu akhirnya korban ikut bergabung dari yang provit hingga loss,” ujar Whisnu yang menegaskan bahwa pihaknya sudah memeriksa 15 saksi, termasuk Indra sendiri.

“Bahwa telah dimintai keterangan terhadap 9 saksi korban yang telah dimintai keterangan, 3 saksi yang telah dimintai keterangan, 3 ahli yang telah dimintai keterangan,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan kepada wartawan, Kamis (17/2).

Setelah kasusnya ramai diperbincangkan publik, Indra Kenz akhirnya angkat suara. Dia menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas konten yang pernah dibuatnya.

Melalui akun resmi Instagram @indrakenz, dia mengaku telah bertemu dengan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan Satgas Waspada Investasi.

“Setelah pertemuan tersebut saya memutuskan untuk menghentikan dan menghapus semua konten yang berkaitan dengan binary option,” kata dia, Jumat (18/2).

Indra menuturkan, pertama kali mengenal binary option saat menonton iklan di Youtube. Dia kemudian aktif menggunakan platform binary pada 2018, lalu membuat konten binary setahun kemudian.

Konten pertama Indra tentang binary option diunggah pada 2019 saat pemgikutnya masih berjumjah 3.000 subscriber. Singkat cerita akun tersebut akhirnya berkembamg sampai sekarang mencapai 1 Juta pelanggan.

“Pada september 2019 saya pernah memberikan statement lewat video youtube saya bahwa binomo itu legal di Indonesia, informasi tersebut adalah salah dan keliru,” jelas Indra.

Menyadari kesalahan itu, Indra membuat klarifikasi pada 2020 lalu. Dia meralat jika Binomo legal menjadi ilegal. Indra mengaku membuat konten tersebut sebatas berbagi pengalaman pribadi.

“Saat ini saya menyadari ada banyak orang yang merasa dirugikan akibat konten – konten tersebut. Pada kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan permohonan maaf kepada para pihak yg merasa dirugikan karena konten – konten binary option yg pernah saya upload,” ucap Indra.

“Sebagai warga negara yg baik, saya akan tetap kooperatif dan mengikuti proses hukum yg ada untuk menyelesaikan permasalahan ini,” tandasnya.

Permintaan maaf tersebut nyatanya tidak begitu menyelesaikan masalah. Proses hukum tetap berjalan. Hingga akhirnya penyidik Bareskrim Polri resmi menetapkan Indra Kenz sebagai tersangka usai dilakukan gelar perkara.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, Indra Kenz telah diperiksa sebagai saksi. Pemeriksaan berjalan sekitar 7 jam.

“Penyidik setelah melakukan pemeriksaan sebagai saksi melaksanakan gelar perkara. Setelah gelar perkara, penyidik menetapkan saudara IK sebagai tersangka,” kata Ramadhan di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (24/2).

Penyidik pun langsung menangkap Indra Kenz. Dia akan langsung ditahan untuk proses hukum lebih lanjut.

“Ada alat bukti yang telah diamankan yaitu akun Youtube dan butki transfer,” jelas Ramadhan.

Indra disangkakan Pasal 45 ayat (2) jo Pasal 27 ayat (2) UU ITE, Pasal 45 ayat (1) jo Pasal 28 ayat (1) UU ITE, kemudian Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), selanjutnya Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU, Pasal 10 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU, Pasal 378 KUHP jo Pasal 55 KUHP. Dia terancam pidana hingga 20 tahun penjara.(jpc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *