Bitcoin vs Trading Valas, Lebih Aman yang Mana Ya?

Bitcoin vs Trading Valas, Lebih Aman yang Mana Ya?

Ribuan Warga Australia Adukan Kasus Penipuan Bitcoin

Foto: Australia Plus ABC

Kini perdagangan mata uang kripto, utamanya bitcoin sangat dilirik masyarakat mancanegara. Nilainya yang fantastis menjadikan orang-orang tergiur. Pada awal Januari 2021 saja, harga bitcoin sempat tembus rekor, dan turut mengerak nilai mata uang kripto lainnya.

Di sisi lain, sampai saat ini masih ada perdagangan valuta asing (valas) atau mata uang asing atau biasa disebut trading forex (foreign exchange). Sebelum membandingkan tingkat keamanan dua jenis aset di pasar fisik itu, perlunya memahami perbedaan keduanya terlebih dahulu.

"Bitcoin adalah mata uang digital. Bitcoin mengadopsi teknologi blockchain yang bersifat tidak terpusat. Berbeda dengan forex dan lain-lain yang masih bergantung dengan kebijakan pemerintah," kata CEO Indodax Oscar Darmawan sekaligus praktisi bitcoin kepada detikcom, Kamis (28/1/2021).

Lebih lanjut, Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menjelaskan, bank sentral di berbagai negara masih punya kontrol terhadap mata uangnya, sehingga dapat melakukan intervensi yang mempengaruhi forex trading. Hal itu tentunya tak ada di bitcoin atau mata uang kripto lainnya.

"Kalau dolar Amerika Serikat (AS) kan ada The Fed yang mengontrol mata uangnya. Mata uang Singapura, rupiah, poundsterling, itu ada regulasi yang mengawasi mata uang mereka. Tidak boleh terlalu kuat, atau melemah terlalu jauh. Jadi selalu ada intervensi dari bank sentral masing-masing," ujar Sutopo.

Sedangkan, naik-turun nilai bitcoin murni disebabkan oleh supply & demand. "Nah kalau di cryptocurrency ini, tidak ada yang namanya bank sentral atau centralized, orang yang mengatur BTC ini untuk kemana-mana. Semuanya murni berdasarkan transaksi supply and demand di pasar," ujar dia.

Dihubungi secara terpisah, Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono menerangkan contoh intervensi yang bisa dilakukan bank sentral demi menjaga tingkat fluktuasi nilai mata uangnya.

"Kalau misalnya dalam kondisi sekarang rupiah ke Rp 16.000/US$ atau Rp 20.000/US$ dengan hitungan dolar masih printing money, balancing-nya pasti akan kelihatan. Nggak mungkin rupiah bertahan lama di Rp 16.000/US$. Jatuhnya paling di Rp 14.000-15.000/US$, bisa ketebak. Atau kalau jatuh ke Rp 12.000 atau Rp 10.0000/US$, nggak bisa lama-lama. Indonesia juga nggak mau mata uangnya terlalu kuat, bank sentral juga nggak rela, pemerintah juga susah ekspornya. Perhitungannya banyak. Bukan sekadar supply and demand," tutur dia.

Lalu, lebih aman trading valas atau bitcoin khususnya bagi pemula?

Menurut Wahyu, trading valas lebih aman ketimbang bitcoin atau mata uang kripto lainnya. Kembali lagi, alasannya karena ada kendali dari bank sentral masing-masing negara.

"Uang sebenarnya lebih aman daripada emas atau BTC. Dalam teknik trading-nya, emas bisa terbang gila-gilaan juga loh, atau bisa anjlok gila-gilaan juga, tapi tidak separah BTC. Tapi untuk rupiah atau dolar, dia anjlok atau terbang itu ada pegang kendali di situ. Jadi ada saatnya dia anjlok. tetapi dia bisa tenang," imbuh dia.

Namun, menurutnya BTC bisa dijadikan sebagai aset untuk ditahan atau maksudnya bukan jangka pendek, dan juga sebagai langkah diferensiasi aset.

"Kalau untuk risk trading jangka pendek, saya lebih baik masuk ke futures mata uang atau forex, sementara BTC saya pikir lebih logis sebagai aset. Jadi kalau rupiah melemah, atau harga saham jatuh, atau emas turun, BTC naik. Dan itu terbukti, ketika 2020 kemarin emas menyentuh rekor tertinggi di US$ 2.000/toz itu dia terkoreksi sampai US$ 1.800/toz di akhir tahun, lalu BTC terbang, ya wajar," paparnya.

"Berarti kan ketika kita punya aset emas, lalu juga BTC, salah satu naik dan salah satu turun, itu yang dimaksud dengan don't put your eggs in 1 basket. Dan itu wajar saja. Artinya, ini sebagai salah satu diferensiasi aset. Karena memang sifatnya BTC itu pelarian kapital," sambung Wahyu.

Kembali ke Sutopo, menurutnya kedua aset tersebut punya risiko yang sama-sama besar. "Semua punya risiko, ada plus minus. Bukan berarti forex lebih aman dari kripto, tidak juga, semua ada risiko. Hanya saja, pergerakan aset kripto itu lebih fluktuatif," ucap Sutopo.

Apabila pemula tetap ingin membeli mata uang kripto, menurutnya ada jenis selain BTC yang punya dasar penilaian, sehingga jauh lebih aman ketimbang BTC.

"Ada beberapa kripto yang based on underlying, contoh USDT. Nah USDT itu adalah koin yang base-nya berdasarkan nilai dolar AS. Jadi itu stabil, itu namanya stable coin. Ada yang berdasarkan dolar AS, yen, euro, nah itu adalah koin-koin yang cenderung stabil, jadi nilainya sama dengan mata uang. Nah itu beberapa koin yang menurut saya jauh lebih aman karena lebih stabil. Contohnya itu koin Tether, itu ada USDT, GDPT, yen. dan sebagainya. Dia bentuknya kripto, jadi dolar bentuknya kripto," tandas dia.

Simak Video " Mantap Jiwa! Harga Kripto Shiba Inu Meroket Nih "
[Gambas:Video 20detik]
(vdl/dna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *